Armada Minim, Penanganan Sampah di Bireuen Sering Bermasalah

0
129
Kabid Persampahan, Said Faisal SE memperlihatkan kondisi armada pengangkut sampah yang mulai rusak.

RR, BIREUEN—Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim dan LH) Kabupaten Bireuen kewalahan mengatasi masalah sampah. Pasalnya, sarana dan prasarana yang tersedia tidak sesuai kebutuhan.

Demikian diungkap Kadis Perkim dan LH Kabupaten Bireuen Ismunandar ST MT melalui Kabid Persampahan, Said Faisal SE, Senin (13/5/2019), di ruang kerjanya.

Sampah dibuang sembarangan di samping RSJ Bireuen.

Menurutnya, penanganan persoalan sampah di Kabupaten Bireuen, khususnya seputaran Kota Bireuen, pihaknya menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya, sebut Said Faisal, armada untuk mengangkut sampah sangat minim.

“Armada sampah kita saat ini sangat kurang. Ditambah lagi dengan kondisi armada banyak yang rusak,” ungkapnya.

Idealnya, menurut Said Faisal, untuk mengangkut sampah, Pemkab Bireuen harus menyediakan 25-30 unit armada yang siap pakai. “Artinya, bukan armada yang harus keluar-masuk bengkel,” katanya.

Dia memeparkan, saat ini armada sampah milik Pemkab Bireuen 17 unit dengan kondisi banyak yang rusak. Armada tersebut untuk mengangkut sampah di 13 kecamatan dalam Kabupaten Bireuen.

Dari 17 kecamatan, hanya 4 kecamatan yang belum dijangkau truk sampah, yaitu Juli, Peusangan Selatan, Peusangan Siblah Krueng, dan Makmur.

Untuk memenuhi kebutuhan armada atau sarana, pihak Dinas Perkim dan LH setiap tahun mengusulkan anggaran pengadaan sarana seperti truk, kontainer dan gerobak sorong. Namun tidak mendapat tanggapan dari pengambil kebijakan.

“Armada sangat penting. Kalau armadanya kurang, kami tidak berani menjamin persoalan sampah tertangani. Karena, satu hari hanya satu trip mampu dijangkau armada ke lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Blang Beururu, Kecamatan Peudada,” jelasnya.

Selain armada minim, kontainer sampah juga banyak yang keropos dan ada yang tidak memungkinkan untuk diperbaiki lagi.

Menyangkut dengan upah diterima petugas kebersihan di Kabupaten Bireuen, Said Faisal mengaku masih di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP). Untuk sopir Rp60 ribu per hari. Sedangkan kenet dan petugas sapu dibayar Rp53.500 per hari. “Jumlah petugas kebersihan di Kabupaten Bireuen saat ini 242 orang, yang terdiri dari sopir, kernet, petugas sapu dan penjaga saluran di Kecamatan Kuala,” ungkapnya.

Disinggung masalah sampah yang berserakan di jalan Karang Rejo—Reuleut, Kecamatan Kota Juang (di samping UPIP RSUD dr Fauziah Bireuen), Said Faisal mengaku belum bisa ditangani karena persoalan armada. Menurutnya, penyebab sampah sampai berserakan di lokasi itu karena kontainer yang ditempatkan sebelumnya harus dipindahkan atas permintaan Kepala Dusun setempat.

“Sebelumnya di lokasi itu sudah kita tempatkan kontainer. Atas permintaan Kepala Dusun setempat  waktu itu, maka kontainer dipindahkan. Dan kami sudah sampaikan saat itu, kalau kontainer dipindahkan, nanti orang tetap buang sampah di situ. Tetapi mereka jamin dan siap menjaga agar tidak ada yang buang sampah lagi di tempat itu, sehingga kami pindahkan kontainer. Namun apa yang kita khawatirkan terjadi kan hari ini,” ungkap Said Faisal. (Rizanur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here