Bireuen Jadi Tuan Rumah Kemah Ramadan ke-4 Muhammadiyah Aceh

0
62

RR, BIREUEN—Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh menggelar Kemah Ramadan Muhammadiyah ke-4 di Bireuen. Perkemahan yang berlangsung sejak Jumat (17/5/2019) dipusatkan di komplek SDIT Muhammadiyah Bireuen, Desa Geulanggang Baro, Kecamatan Kota Juang.

Ketua Panitia Pelaksana Kemah Ramadan Muhammadiyah ke-4, Rizky Dasilva SPdI MA dalam sambutannya pada acara pembukaan menyebutkan, kemah ramadan tahun ini benar-benar berkemah.

“Kita tidur di kemah, berteman dengan nyamuk. Namun suasananya kita buat menyenangkan,” ujar Rizky Dasilva yang juga Kepala SDIT Muhammadiyah Bireuen. Menurutnya, jumlah peserta kemah ini sekitar 300 orang dari seluruh Aceh.

Selaku panitia, Rizky berjanji akan bekerja maksimal menyukseskan kegiatan ini. “Kami panitia akan bekerja semaksimal mungkin, dengan memberikan pelayanan yang baik. Kita semua membawa semangat yang besar. Kegiatan kita di sini full. Jadi, mohon kepada peserta yang punya keinginan untuk tidur agar disimpan dulu,” harapnya.

Sementara Drs Nurdin Abdulrahman dari PD Muhammadiyah Bireuen mengungkapkan bahwa kemah ramadan pertama kali diperkenalkan oleh Ketua PW Muhammadiyah Aceh tahun 2016.

“Kemah Ramadan Muhammadiyah pertama diselenggarakan tahun 2016 di Cabang Muhammadiyah Aceh Tengah,” ungkap Bupati Bireuen periode 2007-2012 ini.

Kedua, lanjutnya, digelar di Cabang Muhammadiyah Aceh Selatan tahun 2017, dan ketiga di Langsa tahun 2018. “Alhamdulillah yang ke-4 Kemah Ramadan Muhammadiyah diselenggarakan di Bireuen,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Bireuen H Saifannur SSos yang diwakili Kepala Dinas Penanaman Modal, Perdagangan Koperasi dan UKM Ir H Alie Basyah MSi mengharapkan Muhammadiyah harus mampu bersinergi dengan semua unsur.

Kemudian, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh Dr Aslam Nur MA menyebutkan alasan dipilihnya Kabupaten Bireuen sebagai tempat pelaksanaan Kemah Ramadan Muhammadiyah ke-4.

Menurutnya, di kabupaten hasil pemekaran dari Aceh Utara tahun 1999 ini banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah sebagai tempat belajar. “Kegiatan Muhammadiyah terus berkembang di sini. Dari sini juga kita belajar bagaimana cara menghidupkan kembali Muhammadiyah,” sebutnya.

Muhammadiyah, tambah Aslam Nur, adalah satu-satunya organisasi yang mampu mengurus dirinya sendiri. Selain itu, organisasi dakwah ini punya peran penting dalam menyatukan bangsa.

“Kemah ramadan ini adalah kekuatan dari warga Muhammadiyah sendiri. Dan nanti sebelum kembali ke daerah asal, peserta jangan lupa bawa oleh-oleh dari Bireuen,” tandasnya.

Terakhir, Pimpinan Pusat Muhammadiyah dr H Agus Taufiqurrahman MKes SPS mendapat kesempatan menyampaikan sambutan singkat.

Dipaparkannya, Muhammadiyah lahir sebelum bangsa ini merdeka, dan sejak dahulu berkomitmen membawa Islam yang rahmatan lil’alamin. “Kenapa namanya Muhammadiyah? Karena ingin ber-Islam seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW,” ungkapnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menyampaikan pandangannya tentang ikhlas. “Belajarlah ikhlas dari pohon kelapa, metiknya harus keras, dikumpulkan pake kaki, ngupasnya pake pisau. Sudah dibuka, masih diparut. Sudah diparut masih diperas. Namun namanya tidak pernah disebut. Namun ia tetap berbuah lebat,” pungkas Agus Taufiqurrahman.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here