Ini Rentetan Aksi ‘Monster Cabul Bertopeng Teungku’ di Aceh

0
389
Ilustrasi

RR, BIREUEN—Adegium barat “don’t judge the book by its cover” ternyata berlaku dalam segala sisi kehidupan umat manusia. Orang yang berpenampilan baik dan berprofesi mulia, ternyata belum tentu dibarengi dengan moral yang baik. Tidak sedikit dari mereka, justru bermoral bejat dan berperangai binatang.

Kondisi demikian juga terus dipertontonkan oleh sederet oknum guru ngaji di Aceh, bahkan oleh oknum pimpinan pesantren yang sering berdiri di mimbar Jumat. Mereka yang dianggap alim dan bersurban, ternyata hanyalah ‘monster cabul yang bertopeng teungku’.

Kasus sodomi yang dilakukan oknum pimpinan dayah dan guru ngaji di Lhokseumawe yang diekpos polisi, Kamis (11/07/2019), bukanlah kasus cabul pertama yang melibatkan oknum teungku di Aceh. Sederet kasus serupa pernah terungkap, yang pelakunya oknum teungku dengan korbannya para santri yang rata-rata anak di bawah umur.

Selama tahun lalu saja, setidaknya ada lima kasus kejahatan seksual terhadap anak yang dilakukan oknum tengku. Dari kasus yang terungkap itu, ada 38 anak yang menjadi korban kebiadaban orang yang dianggap terhormat tersebut. Ini rentetannya:

Februari 2018

Seorang guru mengaji berinisial MA (40), warga Desa Lamkuta, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya dilaporkan ke polisi  dengan sangkaan menyodomi 16 orang muridnya. Aksi tersebut dilakukan di kebun dekat rumahnya.

Maret 2018

Jajaran Polres Aceh Barat mengamankan oknum guru RF (28) karena berbuat cabul terhadap dua orang muridnya. Pelaku beraksi dengan modus mengobati muridnya agar bersemangat saat belajar mengaji. Aksi itu dilakukan di rumah sang teungku.

Juli 2018

Seorang kakek cabul berinisial SR (59), guru mengaji dan imam masjid di Kabupaten Nagan Raya, ditangkap karena mencabuli enam muridnya. Oknum teungku asal Gampong Kubang Gajah, Kecamatan Kuala Pesisir, ini melancarkan aksi bejatnya di tempat pengajian yang berada di dalam area masjid setempat.

Oktober 2018

Seorang guru mengaji di Desa Pantan Musara, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, berinisial TAM (41), mencabuli 12 orang muridnya. Aksi bejat TAM dilancarkan saat ia sedang mengajar murid-murid tersebut.

November 2018

Oknum guru mengaji di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, berinisial MN (41) mencabuli dua orang muridnya. Dia mencabuli kakak beradik itu di dapur dan kamar mandi rumahnya.

Belum hilang dari ingatan pulik terhadap kasus-kasus tersebut, kini mencuat lagi kasus serupa di sebuah pesantren di Lhokseumawe. Pimpinan salah satu pondok pesantren di sana, berinisial AI (45) dan MY (26) yang merupakan guru ngaji di pesantren tersebut, ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana pelecehan seksual terhadap belasan santri.

Makjang, makanya ‘jangan menilai buku hanya dari sampulnya’. Orang bersorban dan berjenggot belum tentu ulama yang bisa dipercaya.[RR/Berbagai Sumber]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here