Jadi Tersangka Pelecehan terhadap Santri, Oknum Pimpinan Dayah dan Guru Ngaji Ditahan

0
54

RR, LHOKSEUMAWE – Pimpinan salah satu pondok pesantren di Lhokseumwe berinisial AI (45) dan MY (26), guru di pondok pesantren tersebut, ditetapkan sebagai tersangka dugaan tindak pidana pelecehan seksual terhadap belasan santri.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan SIK mengatakan kasus itu terungkap setelah orang tua korban melapor perihal adanya tindak pelecehan seksual yang dialami anaknya ke Polres Lhokseumawe pada tanggal 29 Juni 2019.

“Setelah mendapat laporan, petugas mendatangi korban ke rumah pelapor untuk mengambil keterangan dari korban dan ibunya. Dari keterangan awal yang didapat oleh penyidik , bahwa yang melakuka tindakan pelecehan seksual kepada korban R adalah MY yang merupakan guru di pesantren tempat korban sekolah dan AI yang merupakan pimpinan pesantren tersebut,” papar Kapolres didampingi Kasat Reskrim Indra T Herlambag saat konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Kamis pagi (11/07).

Dijelaskannya, pelecehan seksual tersebut terjadi sejak bulan September 2018 di komplek pesantren. “Adapun korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh AI adalah R (13) sebanyak 5 kali, L (14) sebanyak 7 kali, D (14) sebanyak 3 kali, T (13) sebanyak 5 kali, dan A (13) sebanyak 3 kali. Semetara korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh tersangka MY adalah R (13) sebanyak 2 kali,” ungkap Kapolres Lhokseumawe.

Menurutnya, pelecehan seksual tersebut dilakukan tersangka secara bergiliran dengan doktrin ilmu agama. “Korban yang tidak kuat atas tindakan dari tersangka  melaporkan tindakan tersebut kepada orang tuanya. Menurut keterangan tersangka, ada sekitar 15 santri yang menjadi korban, namun hanya 5 korban yang melapor,“ imbuh Ari Lasta.

Atas tidakan tersebut, polisi telah menangkap dan menahan tersangka AI dan MY sejak Senin 8 Juli 2019. “Kedua tersangka dijerat Pasal 47 Qanun Aceh No.6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah dengan ancaman pidana cambuk paling banyak 90 kali atau denda paling banyak  900 gram emas murni atau penjara palig lama 90 bulan,” sebutnya.

Kapolres berharap, masyarakat memberanikan diri untuk melaporkan segala bentuk kekerasan yang dialami oleh anggota keluarganya. “Dalam kasus ini masih ada korban yang belum berani melapor, maka kami mengimbau kepada keluarga korban untuk segera melapor jika menjadi korban dalam kasus ini,“ tutup Kapolres. (Dedy Syahputra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here