Konferensi Kewarganegaraan di Unsyiah Hadirkan Keynote Speaker Kelas Dunia

0
11
Pembukaan seminar internasional di Unsyiah.

RR, BANDA ACEH—Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) bekerjasama dengan Universitas Pendidikan Indonesia dan Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KnI) menyelenggarakan 2nd Annual Civic Education Conference (ACEC) di Gedung AAC Dayan Dawood Banda Aceh, 27-28 Agustus 2019. Konferensi internasional ini membahas pembentukan karakter melalui pendidikan kewarganegaraan untuk menghadapi era revolusi industri 4.0.

Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng yang menjadi salah satu keynote speaker mengatakan era revolusi industri 4.0 jangan hanya disambut euforia, tetapi harus menciptakan kesadaran dan kesiapan bangsa untuk menghindari dampak buruk globalisasi, terutama kerusakan moral dan karakter warga negara.

Menurutnya, saat ini pembangunan karakter sering diabaikan. Pembangunan lebih fokus kepada hal-hal yang bersifat fisik, materialis, ekonomi, dan pragmatis. “Padahal, pembangunan karakter sangat berpengaruh untuk kemajuan pembangunan dan ketahanan nasional,” sebut Prof Samsul, Selasa (27/8).

Ditegaskannya, kualitas karakter sangat diperlukan karena dapat membentuk mental yang kuat dan tangguh. “Dengan demikian, generasi muda Indonesia dapat bersaing dan berkolaborasi dengan komunitas internasional,” ujarnya.

Saat ini, lanjut rektor, Indonesia mengalami degradasi moral dan karakter. Kondisi ini ditandai dengan banyaknya tindakan kekerasan, pornografi, penyimpangan seksual, dan penyalahgunaan narkoba. “Salah satu penyebabnya adalah akibat lemahnya orientasi pendidikan yang hanya mengejar pencapaian kemampuan ilmiah (teoritis) dan nilai akademik semata. Padahal salah satu pembentukan karakter dimulai dari penerapan nilai dan moral dalam kehidupan sehari-hari,” paparnya.

Untuk itu, sebut rektor, dibutuhkan kolaborasi dan integrasi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan lingkungan dalam pembangunan karakter. “Pendidikan karakter harus diupayakan dengan perencanaan yang cermat untuk menghasilkan model dan strategi yang tepat, sehingga dapat terorganisir dengan baik di semua tingkatan,” kata Prof Samsul.

Rektor juga sepakat jika kurikulum pendidikan karakter harus ditata ulang untuk menanggapi kebutuhan generasi millennial. “Institusi pendidikan harus menjadi benteng moral generasi muda di era revolusi industri 4.0, sehingga generasi muda dapat tumbuh berdampingan dengan teknologi tanpa melupakan identitas,” harapnya.

Sekretaris Komite Konferensi, Prof Dr Kokom Komalasari MPd mengatakan konferensi ACEC bertujuan mempertemukan para ahli, pendidik, peneliti, dosen, dan mahasiswa untuk mengeksplorasi perspektif baru tentang pendidikan kewarganegaraan. Tercatat sebanyak 166 makalah masuk dalam konferensi ini dengan beragam gagasan.

Forum ACEC juga menghadirkan keynote speaker dari Pemerintah Aceh, Dr Erica Larson (Boston University, USA), Assoc Prof Dr Sulfikar Amir (Nanyang Technological University, Singapore), Prof Ace Suryadi MSc PhD dan Freddy K Kalidjernih PhD dari Universitas Pendidikan Indonesia.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here