Sindikat Eksploitasi Anak Leluasa Beroperasi di Bireuen

0
124
Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial di Dinas Sosial Kabupaten Bireuen, Faisal Kamal SSos.

RR, BIREUEN—Sindikat eksploitasi anak semakin marak beroperasi di pusat Kota Bireuen. Mereka dengan leluasa mengemis di sejumlah lokasi strategis serta dengan mendatangi warung dan kafe-kafe.

Beberapa sumber RimbaRaya mengungkapkan, banyak anak dimanfaatkan orang tuanya untuk mengemis di tempat tertentu di Kota Bireuen. Selain digunakan untuk menadahkan tangan pada pelintas, anak di bawah umur itu juga dibebankan untuk menjual minuman atau makanan ringan sampai larut malam.

Pantauan RimbaRaya, jumlah anak di bawah umur yang dimanfaatkan untuk mengemis di sejumlah tempat terakhir ini terus bertambah. Seperti yang terlihat pada Rabu (12 Juni 2019) di Simpang Empat Bireuen, banyak pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari pelintas.

Pengemis di bundaran Simpang Empat Kota Bireuen tidak saja pada siang hari namun berlanjut sampai larut malam.

Selain dari pengguna kendaraan yang melintas kota itu, anak anak itu juga dimanfaatkan untuk mengemis dari tamu rumah makan atau kedai kopi dan juga dari penumpang bus di landasan terminal.

“Keberadaan mereka di sini sudah meresahkan, sehingga perlu ditertibkan,” kata seorang penjaga ruko di seputaran bundaran tersebut.

Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial di Dinas Sosial Kabupaten Bireuen, Faisal Kamal SSos, Kamis (13/6/2019), kepada RimbaRaya mengaku kewalahan memberantas kasus pengemis dan pemanfaatan anak-anak yang beraksi di Bireuen. “Sepertinya memang ada yang mengeksploitasi anak untuk mengemis,” sebut Faisal Kamal.

Dikatakannya, Dinas Sosial Kabupaten Bireuen telah berulang kali turun untuk menertibkan, tapi beberapa jam setelah ‘dibersihkan’ pengemis itu muncul kembali.

Menurutnya, pada bulan November 2018 dilakukan penertiban. Dalam penertiban itu, didapati bukan hanya warga Kabupaten Bireuen. “Selain warga Bireuen, ada juga warga Aceh Utara, Langsa dan Medan. Bahkan lebih banyak warga dari luar Bireuen,” ungkapnya.

Persoalan ekploitasi anak untuk mengemis, seakan masalah yang tidak terpecahkan bagi Pemerintah Aceh saat ini. Meskipun telah ada payung hukumnya, yaitu UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta perubahannya UU Nomor 35 Tahun 2014.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here